I.
Era
feodalisme/tuan tanah
Kesimpulan dari pembahasan feodalisme-monarkhi ini adalah sistem feodal atau feodalisme ini sudah lahir, bahkan sebelum zaman pertengahan di Eropa. Feodalisme sudah mulai muncul sejak zaman Yunani Kuno. Yang menjadi inti pembahasan dari feodalisme adalah tanah, dimana manusia itu hidup. Tanah memegang peranan penting pada zaman feodal, karena seseorang dikatakan memiliki kekuasaan bila orang tersebut memiliki modal utama berupa tanah yang kemudian berkembang menjadi wilayah. Sejarah feodalisme adalah sejarah peradaban manusia itu sendiri, dimana manusia dari awalnya sudah haus akan kekuasaan dan kedudukan.
Hegel, G.W.F. 2001. Filsafat Sejarah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
II. Era industri
Tahun
1900an adalah awal dari era indistri, Harta dan pendorong utama dari kemakmuran
ekonomi di Zaman Industri adalah mesin dan modal—yakni, benda. Manusia diperlukan,
tetapi dapat diganti. Anda dapat mengontrol dan merotasi atau mengganti-ganti
para pekerja manusia dengan hanya sedikit konsekuensi yang ditimbulkan, karena
pasokannya melampaui kebutuhannya. Anda hanya perlu mendapatkan orang baru yang
mau mengikuti prosedur ketat. Manusia lalu seperti benda—Anda bisa bertindak
efisien dengan mereka. Yang Anda perlukan hanya tubuh orang-orang itu, dan
bukan pikiran, hati atau jiwa (yang semuanya merupakan penghalang bagi mulusnya
proses zaman mesin); dan dengan demikian Anda menurunkan derajat manusia
menjadi sekadar benda.
Begitu banyak praktik manajemen
modern kita berasal dari Zaman Industri. Itu memberi kita keyakinan bahwa kita
harus mengontrol dan mengelola manusia. Itu juga yang membentuk pandangan kita
mengenai akuntansi, sedemikian sehingga manusia dianggap biaya, sementara mesin
dipandang sebagai aset. Coba pikirkan hal ini. Manusia diletakkan dalam
perhitungan rugi-laba sebagai pengeluaran; sedangkan peralatan diletakkan dalam
pem-bukuan sebagai investasi.
Di bidang motivasi, hal itu jugalah
yang membentuk falsafah "wortel dan cambuk", yaitu sistem pengelolaan
manusia yang sekadar menganggapnya sebagai seekor keledai, yang harus
dikendalikan dengan hadiah dan hukuman. Manusia dimotivasi dengan meletakkan
wortel (hadiah) di hadapannya, dan dipacu dengan cambuk (keta-kutan dan
hukuman) di belakang.
Itu pulalah yang menghasilkan
perencanaan keuangan secara terpusat—di mana berbagai tren atau kecenderungan
diekstrapolasi ke masa depan, lalu hierarki dan birokrasi dibentuk untuk
"mewujudkan angka-angka"… suatu proses reaktif yang sudah ketinggalan
zaman, yang menghasilkan budaya "asal bos senang" dan "aji
mumpung" yang akan bermuara pada sikap "belanjakan saja sampai habis,
agar tahun depan anggaran kita tidak dikurangi", dan menutup-nutupi
kebobrokan organisasi.
Semua praktik itu, dan masih banyak
lagi, berasal dari Zaman Industri yang bekerja dengan para pekerja manual.
Masalahnya adalah, para manajer saat
ini masih menerapkan model kontrol Zaman Industri itu terhadap para pekerja
pengetahuan.
Karena banyak orang yang memegang
otoritas tidak mengetahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orangnya,
serta tidak memiliki pemahaman yang utuh dan tepat mengenai kodrat manusia,
mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang. Kurangnya
pemahaman ini juga menghalangi mereka untuk dapat mendayagunakan motivasi,
bakat dan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh orang-orangnya. Hal itu
merendahkan dan mengasingkan mereka, mendepersonalisasi kerja, serta menciptakan
budaya yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, seragam, dan serba
curiga, penuh selidik. Apa yang terjadi bila Anda memperlakukan anak remaja
seperti benda? Perlakuan itu pun merendahkan, mengasing-kan,
mendepersonalisasikan hubungan pertalian keluarga yang amat berharga, serta
menciptakan keluarga yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah,
perlawanan, dan pembangkangan.
III. Era saat ini
Peradaban Islam Abbasiyah (Bagdad)
dan Andalusia yang kaya raya dan mengusai perdagangan sampai ke ujung dunia.
Lalu Portugis dan Spanyol di awal era penjelajahan Eropa. Inggris yang
menghasilkan Revolusi Industri. Lalu Amerika dan Jepang yang sekarang
menjadi Economic Superpowers.
Seperti Anda sudah lihat,
bangsa-bangsa termaju tidak hanya belajar. Sains-teknologi, matematika,
astronomi, perkapalan, permesinan, pertanian, manajemen, dan seterusnya. Mereka
tidak hanya belajar dengan serius. Mereka belajar, menyerap ilmu-ilmu terbaik,
dan mengembangkannya dengan semangat fanatisme ibadah agama, nilai-nilai ilmu
dan produktivitas dalam Islam, Protestan Work Ethic, dan
Konfusianisme. Mereka belajar untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Sampai mampu
menghasilkan revolusi-revolusi ilmu dan teknologi yang dahsyat.
Mereka juga tahu persis bahwa
keunggulan bangsa mereka ditentukan oleh keunggulan dalam ilmu. Mereka berusaha
keras untuk membentuk masyarakat yang cerdas, yang memiliki kemampuan tinggi
untuk menyerap sains dan teknologi. Mereka tidak ragu mengeluarkan biaya yang
besar untuk belajar. Mereka mendatangkan orang-orang terbaik dari seluruh dunia
untuk mengajari seluruh bangsa mereka, bahkan belajar dari musuh-musuh mereka.
Mereka tahu apa hasilnya kalau mereka unggul dan apa akibatnya kalau mereka
tidak unggul. (Anda juga bisa membandingkan dengan Eropa Zaman Kegelapan yang
melarat).
Bagaimana dengan manusia-manusia
terkaya di dunia?
sama juga. Mereka belajar
teknologi/produk-produk terbaru, juga belajar enaknya berbisnis dengan intens.
Bill Gates menghabiskan semua ilmu tentang komputer sejak muda sampai bisa
mengalahkan orang-orang yang lebih tua. Ia belajar komputer dari pagi, siang,
sore, malam, sampai pagi lagi. Thomas edison kecil bahkan membangun
"laboratoriumnya" sendiri dari hasil jualan koran. Akio Morita (Sony)
sangat gemar belajar elektronik dan ilmu bisnis dari ayahnya. Ia juga bersama
Masaru Ibuka bahkan mempelajari dan mengembangkan teknologi baru Amerika lebih
dulu dari para pengusaha Amerika sendiri. Sam Walton dengan penuh semangat
mempelajari semua toko-toko besar pesaingnya. Ia mempelajari apa pun, bahkan
sudah mulai belajar komputer sejak tahun 1966.
Mereka memiliki kesenangan dan
semangat yang besar dalam belajar.
- Mereka sengan belajar tentang teknologi dan produk-produk baru yang menarik (dan secara strategis kemungkinan akan mempunyai nilai yang tinggi di masa depan).
- Mereka belajar apa yang akan disukai dan dibutuhkan oleh banyak orang.
- Mereka selalu belajar dan mencari cara agar usahanya maju lebih cepat.
- Mereka senang belajar semua rahasia sukses para pesaing terbesarnya dan seterusnya.
Mereka menggabungkan keunggulan
pengetahuan sains dan teknologinya dengan kemampuan entrepreneurship yang
unggul. Hasilnya dalah kekuatan bisnis yang hebat.
Mereka belajar dengan cepat dan dari
sumber-sumber terbaik. Tidak perlu berpikir dulu tentang sekolah bisnis yang
mahal atau konsultan, semuanya bisa dimulai dari buku (tentang pebisnis,
perusahaan, dan produk terhebat), koran (kecenderungan bisnis aktual), atau
majalah teknologi dan bisnis populer. Mereka juga aktif belajar dari
sekelilingnya, orang, produk, atau usaha unggul yang mereka temui sehari-hari.
Bagaimana dengan
perusahaan-perusahaan terunggul di dunia?
mungkin anda juga sudah
mengerti. Kaizen, senjata utama industri Jepang yang tidak lain
adalah proses belajar unggul yang ditanamkan dan dijalankan secara sistematis, strategis,
dan terus-menerus. Benchmarking adalah sebuah nama canggih
untuk sistem belajar dan penyerapan ilmu dari semua yang terbaik. Visi terbesar
dan terbukti sangat berhasil dari Jack Welch,"Manager of the Century",
adalah menjadikan GE sebagai sebuah organisasi baru yang memiliki sistem dan
kemampuan belajar terhebat di dunia.
Pengetahuan juga menciptakan visi
dan cita-cita besar. Ditambah kemampuan yang lebih baik dalam menimbang risiko,
mereka mempunyai keberanian yang lebih hebat untuk melakukan hal-hal besar,
Great Things. Para pedangan Bagdad dulu menjelajah sampai Cina dan Nusantara
sementara orang-orang Eropa takut bepergian ke luar desanya. Portugis dan
Spanyol setelah belajar dari peradaban Islam memberanikan diri melintasi
samudra. FDR menjalankan program besar New Deal (atau Amerika terbang ke
bulan). Bill Gates keluar dari Harvard untuk mendirikan Microsoft dan di usia
25 thun sudah berani mengkali IBM. Juga Akio Morita yang memberanikan diri
memindahkan seluruh keluarganya ke Amerika. Bukan nekat tetapi karena Pengetahuan.
WOW...kereen Mas..., perpaduan materi yang ada ditambah dengan gaya menulis yang fokus dan tajam membuat tulisan ini "bertenaga"...so lanjutkan tulisan2 berikutnya saya tidak sabar menunggu analisis2 lainnya...
BalasHapustetap berbagi dan menginspirasi 1ndONEsia...salam SOBAT-semua orang Bisa Hebat !