Senin, 26 Maret 2012


I.                 Era feodalisme/tuan tanah

Diawali pada tahun sekitar 1880, pada masa itu orang yang berkuasa adalah tuan tanah atau biasa disebut juga zaman feodalisme, Masyarakat feodal menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, karena itu tanah menjadi faktor produksi utama dan jadilah pemilik tanah sebagai pihak yang berkuasa dan menempati lapisan atas struktur masyarakat atas dukungan petani lapisan terbawah. Di lapisan tengah terdapat pegawai kaum feodal dan pedagang. Ciri-ciri feodalisme antara lain adalah adanya lapisan atas, yakni tuan tanah, dan lapisan bawah (buruh). Buruh harus memberi upeti kepada tuan tanah karena pada saat itu tuan tanah yang paling berkuasa dan buruh adalah pekerja yang hanya memanfaatkan tanah si pemilik. Ciri lainnya adalah adanya kepatuhan lapisan bawah terhadap lapisan atas (nasib lapisan bawah ditentukan oleh lapisan atas). Untuk itu, sebagai bentuk kepatuhan karena nasibnya ditentukan oleh lapisan atas, maka lapisan bawah harus menuruti kehendak lapisan atas, dan tidak mempunyai hak untuk berpendapat. Feodalisme cenderung membunuh karakter orang lain, menjajah, menyalahkan orang lain, merendahkan, mencuri hak, dan merusak tatanan kehidupan. Salah satu kepositifan feodalisme hanyalah dapat memberi pekerjaan pada kalangan bawah, walaupun terkesan dipaksakan, namun hal tersebut menjamin kehidupan lapisan bawah. Karena manusia mulai mempertimbangkan untuk memproduksi kebutuhannya, manusia mulai membuat tempat-tempat produksi. Namun, ketika semua tanah menjadi tempat produksi tanpa memperhitungkan tingkat konsumsi, maka banyak tempat produksi yang ambruk karena tidak adanya konsumen saat semua menjadi produsen. Dalam tempat produksi itu terdapat budak-budak yang dipekerjakan, sehingga saat suatu tempat produksi ambruk, tentu menimbulkan pemberhentian. Keadaan yang kacau seperti petani dan pekerja lain yang kehilangan pekerjaan ini kemudian dijadikan komoditi yang terkesan bahwa budak bisa diperjualbelikan. Untuk melangsungkan proses jual beli ini, muncul kaum borjuis yang berkembang dengan gagasan kesetaraan, kebebasan, dan persaudaraan yang menggantikan gagasan kewajiban dan harga diri. Perjuangan kaum ini meruntuhkan pola hubungan bangsawan dan hamba, dan memunculkan kaum proletar yang tidak terikat pada tanah dan tuan feodal. Bersamaan dengan munculnya gagasan kebebasan dan munculnya negara modern yang mempunyai demokrasi dan liberalisme yang sangat bertolak belakang dengan feodalisme, maka tatanan feodal pun akhirnya runtuh.
Kesimpulan dari pembahasan feodalisme-monarkhi ini adalah sistem feodal atau feodalisme ini sudah lahir, bahkan sebelum zaman pertengahan di Eropa. Feodalisme sudah mulai muncul sejak zaman Yunani Kuno. Yang menjadi inti pembahasan dari feodalisme adalah tanah, dimana manusia itu hidup. Tanah memegang peranan penting pada zaman feodal, karena seseorang dikatakan memiliki kekuasaan bila orang tersebut memiliki modal utama berupa tanah yang kemudian berkembang menjadi wilayah. Sejarah feodalisme adalah sejarah peradaban manusia itu sendiri, dimana manusia dari awalnya sudah haus akan kekuasaan dan kedudukan.
Hegel, G.W.F. 2001. Filsafat Sejarah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

 

II.            Era  industri

 

Tahun 1900an adalah awal dari era indistri, Harta dan pendorong utama dari kemakmuran ekonomi di Zaman Industri adalah mesin dan modal—yakni, benda. Manusia diperlukan, tetapi dapat diganti. Anda dapat mengontrol dan merotasi atau mengganti-ganti para pekerja manusia dengan hanya sedikit konsekuensi yang ditimbulkan, karena pasokannya melampaui kebutuhannya. Anda hanya perlu mendapatkan orang baru yang mau mengikuti prosedur ketat. Manusia lalu seperti benda—Anda bisa bertindak efisien dengan mereka. Yang Anda perlukan hanya tubuh orang-orang itu, dan bukan pikiran, hati atau jiwa (yang semuanya merupakan penghalang bagi mulusnya proses zaman mesin); dan dengan demikian Anda menurunkan derajat manusia menjadi sekadar benda.
Begitu banyak praktik manajemen modern kita berasal dari Zaman Industri. Itu memberi kita keyakinan bahwa kita harus mengontrol dan mengelola manusia. Itu juga yang membentuk pandangan kita mengenai akuntansi, sedemikian sehingga manusia dianggap biaya, sementara mesin dipandang sebagai aset. Coba pikirkan hal ini. Manusia diletakkan dalam perhitungan rugi-laba sebagai pengeluaran; sedangkan peralatan diletakkan dalam pem-bukuan sebagai investasi.
Di bidang motivasi, hal itu jugalah yang membentuk falsafah "wortel dan cambuk", yaitu sistem pengelolaan manusia yang sekadar menganggapnya sebagai seekor keledai, yang harus dikendalikan dengan hadiah dan hukuman. Manusia dimotivasi dengan meletakkan wortel (hadiah) di hadapannya, dan dipacu dengan cambuk (keta-kutan dan hukuman) di belakang.
Itu pulalah yang menghasilkan perencanaan keuangan secara terpusat—di mana berbagai tren atau kecenderungan diekstrapolasi ke masa depan, lalu hierarki dan birokrasi dibentuk untuk "mewujudkan angka-angka"… suatu proses reaktif yang sudah ketinggalan zaman, yang menghasilkan budaya "asal bos senang" dan "aji mumpung" yang akan bermuara pada sikap "belanjakan saja sampai habis, agar tahun depan anggaran kita tidak dikurangi", dan menutup-nutupi kebobrokan organisasi.
Semua praktik itu, dan masih banyak lagi, berasal dari Zaman Industri yang bekerja dengan para pekerja manual.
Masalahnya adalah, para manajer saat ini masih menerapkan model kontrol Zaman Industri itu terhadap para pekerja pengetahuan.
Karena banyak orang yang memegang otoritas tidak mengetahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orangnya, serta tidak memiliki pemahaman yang utuh dan tepat mengenai kodrat manusia, mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang. Kurangnya pemahaman ini juga menghalangi mereka untuk dapat mendayagunakan motivasi, bakat dan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh orang-orangnya. Hal itu merendahkan dan mengasingkan mereka, mendepersonalisasi kerja, serta menciptakan budaya yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, seragam, dan serba curiga, penuh selidik. Apa yang terjadi bila Anda memperlakukan anak remaja seperti benda? Perlakuan itu pun merendahkan, mengasing-kan, mendepersonalisasikan hubungan pertalian keluarga yang amat berharga, serta menciptakan keluarga yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, perlawanan, dan pembangkangan.

III.        Era saat ini

 

Peradaban Islam Abbasiyah (Bagdad) dan Andalusia yang kaya raya dan mengusai perdagangan sampai ke ujung dunia. Lalu Portugis dan Spanyol di awal era penjelajahan Eropa. Inggris yang menghasilkan Revolusi Industri. Lalu Amerika dan Jepang yang sekarang menjadi Economic Superpowers.

Seperti Anda sudah lihat, bangsa-bangsa termaju tidak hanya belajar. Sains-teknologi, matematika, astronomi, perkapalan, permesinan, pertanian, manajemen, dan seterusnya. Mereka tidak hanya belajar dengan serius. Mereka belajar, menyerap ilmu-ilmu terbaik, dan mengembangkannya dengan semangat fanatisme ibadah agama, nilai-nilai ilmu dan produktivitas dalam Islam, Protestan Work Ethic, dan Konfusianisme. Mereka belajar untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Sampai mampu menghasilkan revolusi-revolusi ilmu dan teknologi yang dahsyat.

Mereka juga tahu persis bahwa keunggulan bangsa mereka ditentukan oleh keunggulan dalam ilmu. Mereka berusaha keras untuk membentuk masyarakat yang cerdas, yang memiliki kemampuan tinggi untuk menyerap sains dan teknologi. Mereka tidak ragu mengeluarkan biaya yang besar untuk belajar. Mereka mendatangkan orang-orang terbaik dari seluruh dunia untuk mengajari seluruh bangsa mereka, bahkan belajar dari musuh-musuh mereka. Mereka tahu apa hasilnya kalau mereka unggul dan apa akibatnya kalau mereka tidak unggul. (Anda juga bisa membandingkan dengan Eropa Zaman Kegelapan yang melarat).



Bagaimana dengan manusia-manusia terkaya di dunia?
sama juga. Mereka belajar teknologi/produk-produk terbaru, juga belajar enaknya berbisnis dengan intens. Bill Gates menghabiskan semua ilmu tentang komputer sejak muda sampai bisa mengalahkan orang-orang yang lebih tua. Ia belajar komputer dari pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi. Thomas edison kecil bahkan membangun "laboratoriumnya" sendiri dari hasil jualan koran. Akio Morita (Sony) sangat gemar belajar elektronik dan ilmu bisnis dari ayahnya. Ia juga bersama Masaru Ibuka bahkan mempelajari dan mengembangkan teknologi baru Amerika lebih dulu dari para pengusaha Amerika sendiri. Sam Walton dengan penuh semangat mempelajari semua toko-toko besar pesaingnya. Ia mempelajari apa pun, bahkan sudah mulai belajar komputer sejak tahun 1966.

Mereka memiliki kesenangan dan semangat yang besar dalam belajar.
  • Mereka sengan belajar tentang teknologi dan produk-produk baru yang menarik (dan secara strategis kemungkinan akan mempunyai nilai yang tinggi di masa depan).
  • Mereka belajar apa yang akan disukai dan dibutuhkan oleh banyak orang.
  • Mereka selalu belajar dan mencari cara agar usahanya maju lebih cepat.
  • Mereka senang belajar semua rahasia sukses para pesaing terbesarnya dan seterusnya.
Mereka menggabungkan keunggulan pengetahuan sains dan teknologinya dengan kemampuan entrepreneurship yang unggul. Hasilnya dalah kekuatan bisnis yang hebat.

Mereka belajar dengan cepat dan dari sumber-sumber terbaik. Tidak perlu berpikir dulu tentang sekolah bisnis yang mahal atau konsultan, semuanya bisa dimulai dari buku (tentang pebisnis, perusahaan, dan produk terhebat), koran (kecenderungan bisnis aktual), atau majalah teknologi dan bisnis populer. Mereka juga aktif belajar dari sekelilingnya, orang, produk, atau usaha unggul yang mereka temui sehari-hari.

Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan terunggul di dunia?
mungkin anda juga sudah mengerti. Kaizen, senjata utama industri Jepang yang tidak lain adalah proses belajar unggul yang ditanamkan dan dijalankan secara sistematis, strategis, dan terus-menerus. Benchmarking adalah sebuah nama canggih untuk sistem belajar dan penyerapan ilmu dari semua yang terbaik. Visi terbesar dan terbukti sangat berhasil dari Jack Welch,"Manager of the Century", adalah menjadikan GE sebagai sebuah organisasi baru yang memiliki sistem dan kemampuan belajar terhebat di dunia.

Pengetahuan juga menciptakan visi dan cita-cita besar. Ditambah kemampuan yang lebih baik dalam menimbang risiko, mereka mempunyai keberanian yang lebih hebat untuk melakukan hal-hal besar, Great Things. Para pedangan Bagdad dulu menjelajah sampai Cina dan Nusantara sementara orang-orang Eropa takut bepergian ke luar desanya. Portugis dan Spanyol setelah belajar dari peradaban Islam memberanikan diri melintasi samudra. FDR menjalankan program besar New Deal (atau Amerika terbang ke bulan). Bill Gates keluar dari Harvard untuk mendirikan Microsoft dan di usia 25 thun sudah berani mengkali IBM. Juga Akio Morita yang memberanikan diri memindahkan seluruh keluarganya ke Amerika. Bukan nekat tetapi karena Pengetahuan.

Posted by


1 komentar:

  1. WOW...kereen Mas..., perpaduan materi yang ada ditambah dengan gaya menulis yang fokus dan tajam membuat tulisan ini "bertenaga"...so lanjutkan tulisan2 berikutnya saya tidak sabar menunggu analisis2 lainnya...
    tetap berbagi dan menginspirasi 1ndONEsia...salam SOBAT-semua orang Bisa Hebat !

    BalasHapus